Rabu, 04 Januari 2012

pop CORN, jagung brondong........

 Menyambut kehadiran tahun 2012, Wahibi Hot Spot tidak hanya membuka warung lesehan saja, tidak hanya membuat sambel pecel dan roti saja, tapi ikut menyambut tahun 2012 ini dengan produk baru yaitu "POP CORN" atau biasa dikenal dengan jagung brondong. Renyah, manis , gurih, pokoknya nikmatlah......... Kenikmatannya sulit dibayangkan. Coba saja jikalau anda pembaca rubrik ini kebetulan singgah di Warung Wahibi, Jalan Seruni35 Kota Blitar, jagung brondong produksi Wahibi Hot Spot bisa dinikmati. Jagung Brondong yang diproduksi oleh Wahibi Hot Spot, benar-benar di buat dari jagung pilihan.



Seperti Jagung inilah Wahibi Hot Spot memilih dan memilah, kemudian mengolah dengan menggunakan alat-alat yang tidak tradisional. Buah Jagung bersih, bersinar memikat, jika sudah diolah maka tampaklah Jagung Brondong di mangkok diatas. Oleh produsennya popcorn diberi tetenger "YUS 35  CAP JAGUNG  ".      Uenak tenan..........

sungaiKU dan SAMPAHku

Aku dan keluargaku memang bertinggal ditengah kota, yaitu di Kota Blitar, Jawa Timur.  Menghadap ke jalan Seruni dan kebetulan belakang rumahku ada sungai yang membentang dari arah utara ke selatan. Kata orang sungai itu namanya Kali Cari Terusan, artinya Kali Cari yang sebenarnya ada di daerah Kelurahan Sentul, sedang sempalannya berada di Kelurahan Kepanjen Lor dan seterusnya ke Kelurahan kepanjen Kidul kemudian berakhir dan bergabung dengan Kali Brantas. Sebenarnya itu hanyalah kali pematus, atau biasa disebut orang kali pembuangan air terakhir. Di peta Kota Blitar yang aku punya nama sungai itu tidak ditulis, pada hal memiliki fungsi yang tidak kalah penting. Sebagai kali pematus semestinyalah pemerintah bersama warga ikut memelihara baik kebersihan dan keindahannya, seperti kata orang jawa "melu andarbeni" artinya ikut memiliki.  Namun yang tampak sekarang ini, misalnya saja dibelakang rumahku, sungai itu ya "Kali Cari Terusan" ini sudah memiliki banyak fungsi. Tidak hanya sebagai kali pematus saja, tidak hanya sebagai pembuangan air saja, tetapi ternyata masyarakat sekitar sungai sudah memfungsikan sebagai pembuangan, ya pembuangan sampah, yang pembuangan hajat, yang pembuangan limbah industri dan sebagainya. Sehingga jikalau kita lagi melintas di jalan Mastrip Kota Blitar dan melewati jembatan, lalu kita toleh kanan dan kiri maka yang tampak tidak lagi sebagai Kali Pematus, tapi sudah sebagai tempat pembuangan. 
          Pembangunan Plengsengan yang belum seluruhnya juga menyebabkan hilangnya keindahan panorama, juga menyebabkan kelancaran laju air mengalir terganggu. Apakah memang tidak ada anggaran dipemerintah atau bagaimana, yang jelas warga tiap tahun sudah mengusulkannya melalui rembug RT dan RW. Namun hingga kini tak ada realisasi. Atau mungkin membangun plengsengan kali Cari Terusan ini tidak penting, artunya masih ada pembangunan lainnya yang masih di dahulukan.......?. Entahlah...., yang aku tahu warga sebagian sudah ada yang membangun sendiri plengsengan sungai itu sebatas pekarangan miliknya, yang berakibat tidak seragamnya model pembangunannya, istilah jawa "mbangune sak karepe dewe". Akhirnya mbok ya-o pembangunan plengsengan sungai yang sudah diusulkan bertahun-tahun itu diperhatikan. 




Kolektor dan Penulis naskah : mBah Sakrip